Rabu, 18 Januari 2012

INDONESIAN SOUVENIRS

Love them or loathe them, souvenirs are intrinsic to the travel experience.

  1. BOROBUDUR SNOW GLOBE
The world's largest Buddhist monument rarely sees temperatures below 20 degrees - but don't let that stop you from capturing it in a blizzard with one of these classic snow globes. This keepsake serves a double purpose : firstly, to recall the remarkable layout of Borobudur - and your exploration in clockwise circles around each level towards eventual enlightenment at the top ; and secondly, as the country's iconic landmark, it has the added kitsch appeal - place it next to your Great Wall and the Eiffel Tower Globbes,and you'll have the set.

Kuil Budha terbesar dunia ini jarang merasakan suhu dibawah 20 derajat namun jangan sampai ini menghalangi anda untuk mengabdikannya dalam badai salju klasik ini. Tanda mata ini memiliki dua tujuan : pertama, untuk mengingatkan akan rancangan Borobudur yang luar biasa - dan pertualangan anda mengitari setiap lantai, menuju pencerahan di puncaknya. Dan sebagai tempat wisata yang terkenal, ini menambah daya tariknya. Agar koleksi anda terlihat lengkap, panjang globe salju Tembok Besar China dan Menara Eiffel.




2. BINTANG SINGLET
Banned from high - end establishments, a Bintang singlet is sure to get you street - cred when you get back home. Actually probably not. Placed in the so-bad-it's-good category, this item of apparel, emblazoned with Indonesia's favorite beer brand., sells like hot cakes in the local tourist markets. And if you really want o look like an archetypal tourist, wear one with your new beaded hair braids and a henna tattoo. While they may be tacky, they're cheap and functional, and will sit perfectly in your wardrobe next to that Red Bul singlet from Bangkok.

Dilarang tem[at-tempat elit menengah ke atas, singlet Bintang pastinya akan memberi anda kesan jalanan ketika anda kembali ke rumah. Atau mungkin juga tidak. Ditempatkan dalam kategori 'saking buruknya hingga jadi bagus',dengan merek bir favorit Indonesia, penjualannya laris di pasar turis setempat. Jika anda ingin terlihat seperti tipikal turis, pakailah dengan rambut baru anda yang dikepang pantai, dan tato henna. Walaupun terlihat gembel, mereka murah dan fungsional, dan terlihat sempurna dalam lemari pakaian anda disamping singlet Red Bull dari Bangkok.


3. GUITARS
In line with its passion for rock music, Indonesia makes a lot of guitars, from the classic acoustic (pictured), to the primitive sasando guitars of Rote Island, Southwest Timor. Sasandos are the ultimate conversation starters at a diner party - wow your guests with the fact it's made from the spit leaf of the lontar palm and has either 28 or 56 strings. Alternatively, if it's the real thing you're after, you can get yourself a competetively priced classic at any music store ; even music giant Yamaha makes many of its guitars in Indonesia.

Sejalan dengan kegemarannya akan musik rock, Indonesia memproduksi banyak gitar, mulai dari akustik klasik (gambar), hingga gitar primitif sasando dari Pulau Rote, barat daya Timor. Sasando adalah pembuka percakapan mutakhir pada pesta makan malam - buat tamu-tamu Anda terpesona dengan fakta bahwa ia dibuat dari daun lontar dan memiliki 28 atau 56 senar. Atau jika anda mencari barang yang sesungguhnya, anda dapat menemukan gitar-gitar klasik dengan harga bersaing di toko musik mana saja ; bahkan raksasa musik Yamaha membuat banyak gitarnya di Indonesia.


4 PAPUAN DRUM
If you like your souvenirs loud, you shouldn't miss buying a Papuan drum. Most commonly crafted by Western Papuan artisans, especially from the Asmat tribe, the instrument are traditionally played at ceremonial events. Since the disappearence of Michael Rockefeller in the Asmat region in the 1960s, America has been fascinated with Asmat art - and good pieces can be highly prized. Given this, and the work that goes into the drums - each is superbly carved and topped with lizard or crocodile skin - you may want to display yours behind glass. 

Jika anda suka souvenir yang berisik, jangan lewatkan drum Papua. Umumnya dibuat oleh pengrajin Papua Barat, terutama suku Asmat, instrumen ini secara tradisional dimainkan pada saat-saat upacara. Sejak menghilangnya Michael Rockefeller di daerah Asmat pada tahun 1960-an, Amerikamenjadi tertarik dengan kesenian Asmat - dan barang-barang bagus dapat diberi harga tinggi. Karena ini, dan proses pembuatan yang sulit untuk tiap drum tersebut - masing-masingnya diukir dengan sempurna dan ditutup dengan kulit kadal atau buaya - Anda mungkin mau memajangnya dalam kotak kaca. 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar